Selasa, 19 Oktober 2010

Pulau Rote: Mutiara Ditengah Samudra Hindia

Ingin liburan ala selebritis?  Tiru saja liburan pantai Mario Ginanjar. Vokalis band Kahitna ini berlibur ke Pulau Rote beberapa waktu yang lalu.  Pulau Rote merupakan sebuah kabupaten yang disebut dengan nama Rote Ndao dan daerah ini merupakan daerah kepulauan di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pulau Rote terkenal dengan kekhasan budidaya lontar dan alamnya yang indah.  Salah satu tempat wisata yang terkenal di Pulau Rote adalah keindahan pantai di Desa Nemberala. 

Desa yang terletak di Kecamatan Barat Daya Rote, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur ini sungguh indah bak nirwana wisata yang tersembunyi.  Jauh dari hiruk pikuk kota, tenang dan damai dengan kesederhanaan dan keramahan penduduknya. Di Desa Nemberala, Anda dapat bersantai di tepi pantai, menikmati lautnya yang biru, dengan pasirnya yang putih berkilau, dinaungi oleh rimbunan  pohon kelapa yang tinggi-tinggi.

Pasir putih membentang disepangjang pantai


Angin sepoi-sepoi membuat terlena siapa saja

Air laut yang biru jernih mengundang untuk berenang


A Surfing Paradise
Bosan bermain ditepi pantai saja? Jangan khawatir, karena Anda dapat ber-surfing ria bersama teman-teman atau keluarga Anda. Pantai Nemberala adalah surga bagi para surfer.  Anda dapat surfing sepanjang hari, menikmati deburan ombaknya yang memukau.
Pada bulan September 2009 yang lalu, di Nemberala diadakan festival surfing yang diikuti oleh para turis mancanegara. Kebanyakan turis-turis yang datang ke Nembrala adalah surf adventure.

Feel the wave

Have fun with the blue ocean

Be a surf adventure



Seafood Lovers 
Setelah beraktivitas, Anda dapat mencicipi hidangan khas Pulau Rote, yaitu ikan kuah asam.  Hidangan ini menyuguhkan ikan kerapu yang dibakar setengah matang kemudian direbus dalam air mendidih dengan bumbu-bumbu  antara lain, tomat, daun jeruk purut, batang sereh dan kemangi. Aromanya yang harum menggugah selera makan.  Selain ikan kuah asam, ada pula makanan laut yang segar dengan ukuran yang  besar, seperti rajungan, udang, dan cumi-cumi. Saus tomat dengan beragam bumbu yang membalutnya wajib untuk dicoba.

Ikan kuah asam

masakan rajungan

Sate cumi bakar
  
Where to Stay?
Di sekitar Pantai Nembrala, ada beberapa pilihan penginapan, mulai dari hotel hingga homestay dengan tarif puluhan ribu rupiah hingga ratusan ribu rupiah per malam.   Penginapan Tirosa ,yang terletak di pinggir pantai Nemberala, menyediakan bungalow dengan twin bed dengan tarif @Rp.100.000 termasuk sarapan segelas kopi serta makan siang dan malam. Fasilitas yang disediakan juga sangat terbatas hanya sebuah kamar mandi dalam dan sebuah kipas angin yang hanya bisa dihidupkan pada malam hari, maklum saja listrik di Nemberala hanya menyala pada malam hari.  Jika Anda ingin menginap di hotel yang lebih lux dengan fasilitas yang lengkap Anda dapat memilih Nemberala Beach Resort.  Tetapi, harga yang ditawarkan lebih mahal, yaitu $ 160 s.d. $ 250. 

Kamar hotel di Nemberala Beach Resort

Traditional Collection


Ingin membawa pulang koleksi tradisonal hasil kunjungan indah Anda di Pulau Rote?  Barang antik yang dapat menyita seluruh perhatian tamu di rumah Anda? Mungkin alat musik tradisional “Sasando” adalah jawabannya.  Sasando merupakan alat musik tradisional peninggalan leluhur masyarakat Rote yang sangat unik. 

Sasando adalah alat musik petik berbahan baku daun lontar yang dilengkung hingga berbentuk setengah bundaran.  Kedua ujungnya diikatkan pada potongan bambu yang seolah menjadi tiang tengah permukaan bundaran daun lontar.  Dalam bentuk aslinya dulu, tali pendentingnya langsung dari cungkilan kulit bambu tersebut.  Tali-tali cungkilan itu diganjal dengan potongan kayu yang disebut sasenda hingga mendapatkan nada yang diinginkan.

Sasando, "Alat Musik Penuh Cinta" 


Secara harfiah nama Sasando digunakan di kalangan masyarakat Rote sejak abad ke-7. Sasando berasal dari kata sari (petik) dan sando (bergetar) yang diyakini diciptakan Sanggu Ana pada abad ke-15 di pulau kecil dekat Pulau Rote, yaitu Pulau Dana, yang waktu itu dikuasai Raja Taka La’a. Sanggu adalah warga Nusa Ti’i di Pulau Rote Barat Daya. Dia ditahan Raja Dana saat terdampar di pulau itu ketika mencari ikan bersama kawannya, Mankoa. Selain seorang nelayan, Sanggu juga seorang seniman.

 
Saat itu Raja Dana memiliki putri.  Putri jatuh cinta kepada Sanggu. Kepada Sanggu, putri menyampaikan permintaannya untuk memiliki alat musik baru yang diciptakan Sanggu dan bisa menghibur rakyat. Putri memang suka membuat hiburan rakyat saat purnama tiba. Sanggu kemudian menciptakan sari sando yang artinya bergetar saat dipetik. Saat itu dengan tujuh tali yang terbuat dari serat kulit kayu atau akar-akaran.

Sasando hanya dapat ditemukan di kota Kupang.  Anda tidak akan menemukannya di tempat lain, bahkan di kota Jakarta, ibu kota Indonesia.  Toko souvenir di bandara Soekarno-Hatta juga tidak ada yang menjual alat musik tradisional ini.  Oleh karena itu, bila Anda berada di Kupang dan memikirkan suatu masterpiece untuk dibawa pulang, maka Sasando adalah pilihan yang tepat.

Anda dapat membeli Sasando pada pengrajin alat musik Sasando.  Salah satunya yang terkenal adalah Djony Teedens.  Beliau merupakan seorang seniman Sasando yang sudah menggeluti bidangnya selama 24 tahun.  Beliau memproduksi dan juga membuka kursus memainkan alat musik ini.  Beliau merupakan sosok yang menjaga keberadaan Sasando dan mengubahnya menjadi alat musik modern.

Usaha kerajinan sekaligus kursus memainkan Sasando Djony Teedens dipusatkan di kediamannya di Jalan Nanga Jamal, Kelurahan Naikoten I, Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang.

Harga Sasando bertiang tengah 40 sentimeter dan didukung 28 senar dipasarkan seharga Rp 1.000.000,-.  Sedangkan sasando berukuran sama tetapi didukung 32 senar berharga Rp 1.500.000,-.  Biaya kursus Sasando Rp 150.000/ bulan.

Berselancar bebas di tengah ombak, diiringi dentingan Sasando, menyantap ikan segar, merupakan liburan alam yang indah di Pulau Rote.  Selamat berlibur!

How to Get There?

Peta






Sumber: 
http://www.potlot-adventure.com
http://griyawisata.com
http://tetiq.blogspot.com
http://nemberalabeachresort.com
thomaspm.wordpress.com
Kompas, Sabtu 13 Oktober 2012
http://suaranada.wordpress.com/2011/07/27/sasando-alat-musik-dari-pulau-rote/





Jumat, 08 Oktober 2010

Kota Tua – Warisan Sejarah di Tengah-tengah Kota Jakarta yang Padat


Kota Tua adalah kawasan pariwisata yang terletak di Jakarta Barat.  Kawasan ini menjadi tempat berlibur favorit wisatawan local dan mancanegara.  Kawasan Kota Tua memiliki tempat-tempat wisata yang menarik seperti Museum Fatahillah, Museum Wayang, Kantor Pos Indonesia, Museum Keramik, Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia (MBI), Jembatan Gantung, Toko Merah, dan Pelabuhan Sunda Kelapa.  Semua berkumpul menjadi satu dan membangun suasana Batavia tempo dulu.  Berjalan-jalan diantara bangunan kuno colonial Belanda akan membuat Anda merasakan sensasi tersendiri.  Museum Fatahillah is the main attraction in The Old City.  Banyak wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia menghabiskan weekend mereka disini.  Berjalan-jalan santai bersama teman-teman sambil mengabadikan momen berharga.  Museum Fatahillah dan sekitarnya merupakan surganya fotografer, mulai fotografer dadakan sampai fotografer  professional untuk bridal dan fashion.  Jika pada saat weekend museum dipadati oleh wisatawan local, maka wisatawan asing biasanya lebih terlihat di hari-hari kerja dimana museum lebih sepi sehingga dapat menikmati keindahan arsitektur colonial Belanda.

Penulis, didepan Museum Fatahillah

Penulis bersama wisatawan dari Afrika Selatan

The History
Gedung ini dulu adalah sebuah Balai Kota (bahasa Belanda: Stadhuis) Bangunan itu menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.
Jan Pieterszoon Coen
Pada tanggal 30 Maret 1974, gedung ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah.
Gedung Museum Sejarah Jakarta mulai dibangun pada tahun 1620 oleh Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen  sebagai gedung balaikota ke dua pada tahun 1626 (balaikota pertama dibangun pada tahun 1620 di dekat Kalibesar Timur). Menurut catatan sejarah, gedung ini hanya bertingkat satu dan pembangunan tingkat kedua dibangun kemudian hari.  Setelah itu beberapa perbaikan dan perubahan di gedung stadhuis dan penjara-penjaranya terus dilakukan hingga bentuk yang kita lihat sekarang ini.
Seperti umumnya di Eropa, gedung balaikota dilengkapi dengan lapangan yang dinamakan ‘’stadhuisplein'’. Menurut sebuah lukisan uang dibuat oleh pegawai VOC Johannes Rach yang berasal dari Denmark, di tengah lapangan tersebut terdapat sebuah air mancur yang merupakan satu-satunya sumber air bagi masyarakat setempat. Air itu berasal dari Pancoran Glodok yang dihubungkan dengan pipa menuju stadhuiplein. Pada tahun 1972, diadakan penggalian terhadap lapangan tersebut dan ditemukan pondasi air mancur lengkap dengan pipa-pipanya. Maka dengan bukti sejarah itu dapat dibangun kembali sesuai gambar Johannes Rach, lalu terciptalah air mancur di tengah Taman Fatahillah. Pada tahun 1973 Pemda DKI Jakarta memfungsikan kembali taman tersebut dengan memberi nama baru yaitu ‘'’Taman Fatahillah”’ untuk mengenang panglima Fatahillah pendiri kota Jakarta.


Architecture
Gedung Stadhuis di awal abad ke-20, dihubungkan dengan jalur trem ke pusat pemerintahan di kawasan Weltevreden.  Arsitektur bangunannya bergaya abad ke-17 bergaya Barok klasik dengan tiga lantai dengan cat kuning tanah, kusen pintu dan jendela dari kayu jati berwarna hijau tua. Bagian atap utama memiliki penunjuk arah mata angin.  Museum ini memiliki luas lebih dari 1.300 meter persegi. Pekarangan dengan susunan konblok, dan sebuah kolam dihiasi beberapa pohon tua.

Operating Hours  
Selasa sampai Minggu jam 09.00 - 15.00 WIB  
Hari Senin dan Hari Besar Tutup

Admission 
Dewasa Rp. 2000,-  
Mahasiswa Rp. 1000,-  
Pelajar/Anak Rp. 600,-  
Rombongan Dewasa Rp. 1500,-*  
Rombongan Mahasiswa Rp. 750,-*  
Rombongan Pelajar/Anak Rp. 500,-*
 * Rombongan minimal 20 orang.

How to Get There
·     Taxi
·     Transjakarta (berhenti di Stasiun Kota).
·     Mikrolet (warna biru, No. 12, 15A, 39).

Address 
Jl. Taman Fatahillah No. 1 Jakarta Barat
Telp (62-21) 6929101, 6901483
Fax. (62-21) 6902387
email: musejak@indosat.net.id
Café Batavia

Penulis bersama wisatawan dari Amerika Serikat, didepan Cafe Batavia




Ingin bersantai sambil menikmati pemandangan Museum Fatahillah?  Mampirlah ke Café Batavia yang terletak tepat diseberang Museum Fatahillah.  Café ini memiliki menu yang komplit, mulai dari masakan Indonesia, Asia, sampai Western food.  Bergaya colonial klasik, café ini menghadirkan suasana yang nyaman dengan desain interior yang unik.  Selain itu Café Batavia dikenal dengan Churcill Bar-nya yang masuk sebagai The World’s Best Bar pilihan Newsweek pada tahun 1994 dan 1996.

Operating Hours
Weekdays : open 8:00am to 2:00am
Weekends : 24 hours

The Batavia Hotel


Hotel Rating: 4 stars

Jl. Kali Besar Barat 44-46. Jakarta 11230. Indonesia
Phone : 62 21 690 4118, 690 7926. 
Fax : 62 21 690 4092, 692 4044
Email : info@batavia-hotel.com